Syurya Jelsi Blog

Selamat datang di portal blog saya.

TIPS MEMOTRET BUNGA

Cari tahu disini bagaimana tips-tips memotret objek micro yang baik

Salam Terakhir

Sebuah puisi untuk sahabat.

FIFA vs PES 13

Perbandingan antara permainan sepak bola teranyar, siapakah yang akan keluar sebagai pemenang tahun ini?.

Canon EOS 6D

CANON 6D, KAMERA DSLR FULL FRAME TERJANGKAU DARI CANON.

Senin, 24 September 2012

MEMAHAMI APERTURE & DEPTH OF FIELD

Definisi aperture adalah ukuran seberapa besar lensa terbuka (bukaan lensa) saat kita mengambil foto.
Saat kita memencet tombol shutter, lubang di depan sensor kamera kita akan membuka, nah setting aperture-lah yang menentukan seberapa besar lubang ini terbuka. Semakin besar lubang terbuka, makin banyak jumlah cahaya yang akan masuk terbaca oleh sensor.
Aperture atau bukaan dinyatakan dalam satuan f-stop. Sering kita membaca istilah bukaan/aperture 5.6, dalam bahasa fotografi yang lebih resmi bisa dinyatakan sebagai f/5.6. Seperti diungkap diatas, fungsi utama aperture adalah sebagai pengendali seberapa besar lubang didepan sensor terbuka. Semakin kecil angka f-stop berarti semakin besar lubang ini terbuka (dan semakin banyak volume cahaya yang masuk) serta sebaliknya, semakin besar angka f-stop semakin kecil lubang terbuka.
apertureJadi dalam kenyataannya, setting aperture f/2.8 berarti bukaan yang jauh lebih besar dibandingkaan setting f/22 misalnya (anda akan sering menemukan istilah fully open jika mendengar obrolan fotografer). Jadi bukaan lebar berarti makin kecil angka f-nya dan bukaan sempit berarti makin besar angka f-nya.
Depth of Field
Depth of field – DOF, adalah ukuran seberapa jauh bidang fokus dalam foto. Depth of Field (DOF) yang lebar berarti sebagian besar obyek foto (dari obyek terdekat dari kamera sampai obyek terjauh) akan terlihat tajam dan fokus. Sementara DOF yang sempit (shallow) berarti hanya bagian obyek pada titik tertentu saja yang tajam sementara sisanya akan blur/ tidak fokus.
PICT0235_mdUntuk mendapatkan DOF yang lebar gunakan setting aperture yang kecil, misalkan f-22 (makin kecil aperture makin luas jarak fokus) – lihat contoh foto diatas. Sementara untuk mendapat DOF yang sempit, gunakan aperture sebesar mungkin, misal f/2.8 – lihat contoh foto dibawah.
PICT0236_mdKonsep Depth of Field ini akan banyak berguna terutama dalam fotografi portrait dan fotografi makro, namun sebenarnya semua spesialisasi akan membutuhkannya.

LENSA MAKRO MURAH MERIAH DENGAN REVERSE RING

Setelah dalam dua artikel terdahulu kita membahas tentang alternatif lensa makro menggunakan filter close up dan extension tube, kali ini kita akan membahas cara memperoleh lensa makro dari lensa kit anda dengan menggunakan reverse ring.
Lensa dibalik makro reverse
Kelihatannya aneh, tapi saat kita memasang sebuah lensa prime 50mm atau lensa kit zoom standar (18-55mm atau 17-50mm) secara terbalik disebuah kamera (ujung depan lensa menempel ke body kamera) menggunakan alat tambahan bernama reverse ring, kita akan mendapatkan lensa makro berkualitas tinggi dengan harga terjangkau. Kita sebenarnya bisa memakai lensa lainnya, namun lensa prime 50mm dan lensa kit zoom standar tampaknya menjadi pilihan banyak orang karena harganya relatif murah.
Lensa dengan focal length lebih panjang dibanding 50mm memberi efek perbesaran (magnification) yang terlalu sedikit, sementara lensa lebar memberi efek perbesaran yang terlalu banyak.
Karena kebanyakan dari pemilik kamera DSLR sudah memiliki lensa kit zoom atau lensa prime 50mm, maka metode lensa makro dengan reverse ring ini menjadi pilihan yang sangat menarik. Cukup dengan membeli sebuah ring kecil dengan harga sangat murah (bahkan kadang tidak sampai Rp 100 ribu), kita sudah memiliki lensa khusus makro berkualitas lumayan dan bisa memotret benda-benda kecil dari jarak sangat dekat.
Ada dua cara dalam memakai reverse ring:

Membalik Lensa Tunggal

Cara pertama adalah dengan membalik sebuah lensa tunggal. Untuk ini kita membutuhkan sebuah reverse ring dan lensa zoom kit atau lensa 50mm. Reverse ring merupakan sebuah cincin kecil dengan satu sisi masuk ke ujung depan lensa sementara sisi satunya masuk ke mount kamera.
Sebuah lensa prime 50mm yang terpasang ke kamera crop (Canon 600D atau Nikon D3200) dengan reverse ring memiliki reproduksi 1:1, sama seperti lensa makro Canon 85mm seharga Rp. 5 Juta atau lensa Tamron 90mm macro seharga Rp. 3,5 Juta.
Kerugian utama memakai reverse ring adalah kita kehilangan koneksi elektronik antara kamera ke lensa, sehingga autofokus tidak akan bekerja dan kita harus mengeset fokus secara manual. Namun metering tetap akan bekerja seperti biasa, cukup gunakan mode P (Program) atau Aperture Priority. Untuk mengubah nilai aperture tidak akan bisa dilakukan dari kamera, maka jika anda memiliki lensa dengan aperture ring (biasanya lensa generasi lebih lama) anda memiliki keuntungan bisa mengubah-ubah nilai aperture. Sementara jika lensa tidak memilik aperture ring (rata-rata lensa modern tidak memiliki aperture control di lensa), kita terpaksa menggunakan bukaan terbesar (nilai F terkecil) sehingga kita hanya memiliki Depth of field yang sempit. Jika faktor ini (DOF sempit, autofokus mati) membuat anda malas mencoba reverse ring, anda bisa membaca cara kedua dibawah ini atau anda bisa menggunakan extension tube yang memiliki koneksi elektronis dengan kamera, baca caranya disini.

Reverse Ring Lensa Double

Makro coupler lensa dibalik
Dengan beberapa batasan saat menggunakan satu lensa dibalik (autofokus mati, DOF sempit) kita bisa mengakalinya dengan memasang lensa terbalik didepan lensa lain yang dipasang normal. Dengan cara ini kita masih bisa mengontrol depth of field dan bisa mendapatkan autofokus.
Lensa yang dipasang normal ke kamera dinamai lensa primary sementara lensa yang dipasang terbalik didepan lensa primary dinamai lensa secondary.
Untuk menggunakan cara ini, kita membutuhkan lensa 50mm dan sebuah lensa panjang (idealnya diatas 85mm) untuk menghindari vignetting dan sebuah ring bernama macro coupler. Makin panjang lensa primary anda, makin besar pula efek perbesaran foto. Jika anda memakai lensa lebar sebagai pengganti lensa 50mm maka efek perbesaran akan makin besar.
Macro coupler atau juga biasa disebut male to male ring adapter (m2m) hanyalah sebuah cincin logam dengan ukuran spesifik yang harus sesuai ukuran filter thread lensa anda. Jika anda tidak bisa menemukan adapter yang memiliki ukuran sesuai, anda bisa memanfaatkan step up atau step down ring.
Oke, selamat mencoba dan harap bersabar, dua cara diatas membutuhkan kesabaran ekstra.

Extension Tube Mengubah Lensa Biasa Menjadi Lensa Makro

Jika suatu saat anda ingin memotret makro namun tidak ingin membeli lensa khusus makro, ada beberapa skenario alternatif murah yang bisa dipakai:
  1. Memasang extension tube antara lensa dan body kamera
  2. Memasang filter close-up didepan lensa
  3. Membalik lensa (reverse ring)
Lula
Foto diatas diambil dengan lensa 50mm f/1.4 plus extension tube Kenko 36mm
Secara bertahap kita akan membahas masing-masing pilihan, namun untuk artikel ini kita fokuskan tentang penggunaan extension tube. Oke langsung saja:
Extension tube dipasang antara body kamera dan lensa, sehingga secara efektif menambah jarak antara elemen depan lensa dan bidang sensor, yang pada akhirnya akan meningkatkan perbesaran lensa dan mengubah minimum focusing distance.
extension tube
Extension tube hanyalah sebuah ring logam berbentuk silinder dan tidak memiliki elemen optik, sehingga kualitas foto tidak terpengaruh secara optik, namun kita juga jangan berharap kualitasnya bisa menyamai kualitas lensa khusus makro. Kita bisa menumpuk beberapa extension tube sekaligus untuk bisa mendapat tingkat perbesaran yang lebih banyak.
Kita bisa membeli extension tube tunggal atau membelinya dalam set, kebanyakan extension tube memiliki panjang ekstensi efektif antara 8 mm sampai 35 mm, dan kita bisa mengkombinasikan beberapa extension tube sekaligus, namun efeknya informasi dan pengaturan elektronis kadang tidak “nyambung” dengan kamera saat kita menumpuk beberapa extension tube.
foto makro dengan extension tube
Gambar diatas, Kiri: Diambil dengan lensa 85mm dengan extension tube 12mm. Kanan: dengan lensa 85mm yang dipasang extension tube 25mm. Lihat perbedaan efek perbesaran dari kedua extension tube yang beda 13 mm.
Keuntungan utama extension tube adalah bahwa cukup dengan membeli satu kita bisa memakainya di semua lensa. Namun jenis lensa yang paling ideal adalah lensa dengan rentang panjang focal antara 24 mm sampai dengan 90 mm, jadi kalau anda memiliki lensa kit 18-55mm atau memiliki lensa prime 50mm (lensa 50mili adalah lensa hebat loh, lihat galeri foto-foto menakjubkan dengan lensa 50mm), mereka adalah jodoh ideal bagi extension tube. (apa itu panjang focal?)
Canon, Nikon atau produsen kamera dan lensa lain seringkali memproduksi extension tube mereka sendiri, namun untuk pilihan yang lebih murah kita bisa membeli merek third party macam Kenko. Hal penting yang harus diperhatikan adalah pastikan bahwa koneksi elektronik antara kamera dan lensa masih tetap nyambung, karena jika tidak kompatibel maka fitur macam autofokus atau auto exposure tidak akan bekerja. Tanpa koneksi elektronik, kita juga tidak bisa mengatur aperture dari kamera (dan lensa kit atau lensa prime seringkali tidak memiliki aperture ring lensa). Jadi cek konektifitas sebelum anda membayar.
Untuk canon anda bisa membeli Canon EF12 II dan EF25 II, masing-masing memiliki panjang ekstensi 12 mm dan 25 mm, atau anda bisa menggabungkan keduanya. Jika anda bisa mencari edisi lama kedua tube ini (EF12 dan EF 25) dalam kondisi bekas yang harganya jauh lebih murah.
Nikon menjual PK-11A, PK-12, PK-13 dan PN-11, masing-masing memiliki panjang ekstensi 8 mm, 14mm, 27,5 mm dan 52,5 mm.
Olympus membuat EX-25 untuk kamera four-third dan memiliki panjang ekstensi 25 mm.
Jika anda menginginkan extension tube yang murah, anda bisa membeli tube merek Kenko yang membuat extension tube yang kompatibel dengan Canon, Nikon dan Sony. Di Indonesia merk Kenko banyak beredar dan dijual dalam rentang harga dari Rp. 500 ribu sampai Rp. 1,4 juta tergantung panjang ekstensi. Jauh lebih murah dibanding anda harus membeli lensa khusus makro. Jadi, selamat memotret makro tanpa harus menguras kantong.

MEMAHAMI DAN MENGURANGI CHROMATIC ABERRATION LENSA

Saat mengamati sebuah foto dari jarak dekat atau saat kita memperbesar sebuah foto di komputer, seringkali kita melihat bayangan tipis (halo) berwarna ungu, hijau atau merah yang menyelimuti batas-batas sebuah obyek foto. Mmm… supaya lebih jelas, lihat contoh foto dibawah ini:
chromatic aberration 1
Munculnya halo ini dalam ilmu optik biasa disebut Chromatic Aberration.
Catatan:
Kalau anda tidak suka Fisika, sama!! Saya juga hampir selalu ngantuk saat ada pelajaran fisika :) , tapi kita sama-sama berpura-pura sok pintar saja biar yang ini cepat lewat.


Apa Sih Chromatic Aberration?

Kalau rajin mendengarkan apa kata guru Fisika, anda akan tahu bahwa setiap spektrum warna memiliki sifat yang berbeda. Lensa, seperti halnya benda bikinan manusia lain yang penuh cacat, sehingga yang idealnya dia bisa menjatuhkan titik fokus semua warna tepat pada sensor pada prakteknya ada yang kelolosan, fokusnya jatuh di luar bidang sensor, ada yang dibelakang sensor ada yang didepan sensor.
chromatic aberration 2
Setiap warna ternyata dibelokkan berbeda oleh lensa, sehingga jadi menyebar atau ter-dispersi. Karena jatuhnya tidak tepat pada sensor-lah sehingga timbul fenomena chromatic aberration pada foto anda. (Kalau ada yang penasaran dengan terjemahan chromatic aberration dalam Bahasa Indonesia, artinya kurang lebih penyimpangan karena sifat warna, atau kalau kita sembrono sebut saja penyimpangan kromatik, heheh).

Apakah Setiap Lensa Memiliki Kelemahan Ini?

Ya, secara praktek di lapangan semua lensa memiliki chromatic aberration, yang membedakan biasanya adalah kualitas material serta desain lensa itu sendiri yang mempengaruhi seberapa baik sebuah lensa menekan munculnya CA secara optimum. Produsen lensa biasanya mampu menekan cacat ini di area tengah lensa, namun kecolongan di bagian pojok lensa.
Lensa berkualitas tinggi semisal lensa seri L milik Canon, atau lensa mahal merk lain menggunakan material optik yang memilliki sifat dispersi super kecil, sehingga penyebaran warna bisa diminimalisir, naumun juga memiliki kelemahan lain, diantaranya mampu menguras rekening tabungan kita.

Adakah Teknik Foto Tertentu Untuk Mengurangi chromatic aberration

Beberapa trik yang bisa mengurangi Chromatic Aberration diantaranya:
  1. Kurangi aperture anda, kalau di f/2.8 chromatic aberration terlihat sangat mengganggu cobalah turun 1 stop ke f/4 misalnya.
  2. Hindari zoom sampai maksimal. Semisal anda memakai lensa zoom 70–300mm, cobalah hindari zoom maksimal sampai 300 kecuali terpaksa. Memotret pada focal length 200mm akan megurangi CA.
  3. Hindari Situasi Kontras Tinggi. Kalau memang lensa anda memiliki chromatic aberration yang tinggi, cobalah hindari memotret dengan kontras tinggi, misalnya: memotret dedaunan dengan background langit.
  4. Hati-hati dengan lensa super zoom. Lensa super zoom memang memiliki banyak keuntungan praktis misalnya saat traveling, namun kalau anda prioritasnya sedang menghindari chromatic aberration, pakailah lensa lain. Lensa super zoom (misal 18–200mm) biasanya memiliki CA yang lumayan parah di sisi lebar.
Kapan-kapan kita akan membahas cara koreksi chromatic aberration menggunakan phtoshop, tapi kapan-kapan ya.
Sumber foto: wikipedia.

FILTER CLOSE UP UNTUK FOTO MAKRO

filter close up makro
foto diatas diambil dengan lensa 85mm f/1.8 + filter close up 500D
Setelah dalam artikel sebelumnya kita membahas bagaimana memanfaatkan extension tube untuk foto makro, kali ini kita akan membahas tentang penggunaan filter close-up.


Apa Itu Filter Close Up?

Sebuah close-up filter (close-up lens), pada dasarnya adalah sebuah kaca pembesar berkualitas tinggi yang dipasang di depan lensa, seperti halnya filter lain seperti halnya filter CPL. Dengan memasang filter close up, kita bisa mengurangi minimum focusing distance lensa yang kita pakai. Dengan begitu kita bisa memotret dari jarak super dekat dengan obyek foto.
Kekuatan filter close-up diukur dengan sebuah parameter bernama diopter. Makin besar angka diopternya, semakin besar efek perbesarannya. Kebanyakan filter close-up memiliki kekuatan diopter +1, +2, +3 dan +4, meskipun tersedia juga filter close-up dengan kekuatan +10 diopter. Makin besar angka diopter memungkin kita makin mendekati obyek foto, dengan konsekuensi penurunan kualitas optik.
Kita juga bisa menumpuk dua filter close-up untuk meningkatkan perbesaran, sebagai contoh saat kita tumpuk filter close +1 dan +2, maka kita akan mendapatkan total +3 diopter, meskipun kualitas foto akan menurun.
up close

Jenis Filter Close Up

Ada dua jenis filter close up:

1. Filter Close Up Single Element

Kebanyakan filter close up masuk ke kategori ini. Jenis filter close up ini juga paling banyak tersedia di toko kamera. Harganya lebih murah namun dengan konsekuensi kualitas optik yang lebih rendah. Filter elemen tunggal ini biasanya memiliki cacat berupa chromatic aberration (apa sih chromatic aberration? baca disini) dan area di pinggiran foto terlihat tidak tajam (soft). Secara umum, kualitasnya jauh dibandingkan saat anda menggunakan extension tube.

2. Filter Close Double Element

Memiliki elemen ganda, jenis filter ini mampu meminimalisir chromatic aberration dengan memanfaatkan elemen kedua. Jenis filter ini memang lebih mahal dibanding elemen tunggal dan lebih jarang ada di pasaran. Canon memproduksi filter close up double element: 250D (+4 diopter) dan 500D (+2 diopter) dan kita bisa memasangnya di merk lensa apapun asal ukuran ulirnya pas. Merk lain yang tersedia misalnya Kenko.

Pemakaian

Lensa close up bisa dipakai dengan lensa apapaun, yang harus anda ingat adalah ukuran ulirnya harus cocok. Cara paling aman adalah membeli ukuran filter terbesar (misal 72mm) dan kalau anda memiliki lensa dengan diameter 58mm misalnya, tinggal beli tambahan step down ring dari 72 ke 58mm. Filter close up juga bisa dipasang di lensa tele maupun lensa zoom, makin panjang focal length lensa, makin besar tingkat perbesarannya saat dipasangi filter close up.
Anda juga jangan berharap kualitas optik filter ini bisa menyamai lensa makro yang memang didesain untuk memotret makro. Tapi dengan harga yang jauh lebih murah dibanding harus membeli lensa makro, anda bisa membeli filter close-up untuk mengukur besar tidaknya minat anda memotret makro dan berlatih memotret makro (alternatifnya: membeli extension tube). Kalau memang sudah ketahuan bahwa memotret makro adalah “panggilan jiwa” anda, belilah lensa makro.

TIPS MEMOTRET BUNGA

In the Shadow of a Flower
Foto bunga adalah salah satu proyek foto yang sangat populer bagi pemilik kamera, apalagi bagi pemilik kamera baru, foto bunga hampir selalu wajib dicoba. Mari kita bahas beberapa tips memotret bunga supaya hasil foto anda nantinya dipuji teman-teman :) .


1. Jangan memaksakan harus ke taman


Market Flowers
Kalau anda tinggal di daerah dataran tinggi atau pedesaan yang relatif banyak “koleksi” tanaman bunga dimana-mana, maka anda cukup beruntung. Sialnya adalah bila anda tinggal di kota yang cukup urban. Untungnya ada profesi yang namanya florist alias si tukang bunga. Carilah florist terdekat dan belilah bunga darinya. Memang jadi ada tambahan biaya tapi dijamin anda bisa memilih jenis dan kualitas bunga yang sesuai keinginan.

2. Jangan memotret bunga dari atas

Jugando con texturas (VII): Efectos secundarios
Kenapa jangan dari atas? karena nantinya akan kelihatan biasa-biasa saja. Cobalah potret dari samping, atau malah dari bawah sekalian seperti foto diatas. Menarik bukan? Cobalah bereksperimen dengan beragam sudut pemotretan, jangan takut mencoba!

3. Basahi bunga atau potretlah setelah hujan

campion
Bunga yang basah atau berembun memiliki keistimewaan tersendiri bagi mata yang melihatnya. Untuk memotret bunga dalam kondisi basah, anda bisa menunggunya setelah hujan atau memotretnya pagi-pagi sekali setelah malam yang berembun. Jika dua kondisi ideal ini tidak terpenuhi, anda toh bisa membasahinya sendiri. Gunakan semprotan bunga dari jarak yang agak jauh dan kalau bisa aturlah agar butiran airnya selembut mungkin supaya tekstur air yang menempel di bunga lembut dan kelihatan alami.

4. Aturlah agar background nyambung dan seirama

Drops
Niatan anda memotret bunga adalah untuk menangkap keindahan mereka, untuk itu pastikan obyek utama (bunga) tetap menonjol keindahannya dan tidak dicemari background yang kurang seirama atau terlalu sibuk. Lakukan segala upaya agar anda memperoleh background yang oke: ganti sudut pemotretan, singkirkan background yang mengganggu, pilih aperture besar supaya background jadi blur, atau lakukan pemrosesan menggunakan photoshop untuk membuat background terasa lebih pas.

5. Potretlah secara close-up

Rosa
Untuk memotret bunga secara close-up anda bisa melakukannya dengan cara: zoom lensa anda sampai maksimum, atau gunakanlah filter close-up (apa itu filter close up?), atau kalau anda punya kamera SLR maka anda bisa menggunakan lensa makro (tahukah anda, lensa kit atau lensa 50mm bisa disulap menjadi lensa makro dengan cara yang murah? jawabnya baca disini ). Memotret bunga secara close up membantu membuat background semakin blur dan juga meningkatkan detail yang tertangkap kamera sehingga hasilnya lebih menonjol.

6. Untuk foto super close-up lakukan di dalam ruangan

Flower Setup
Foto bunga super close-up menggunakan lensa makro atau filter close-up seperti foto diatas, jika dilakukan di luar ruangan maka anda harus menghadapi beberapa tantangan, salah satu yang paling sulit adalah angin. Foto bunga super close-up memiliki jarak fokus yang sangat tipis, jadi begitu angin bertiup dan bunga bergerak sedikit saja sudah mengubah titik fokus. Untuk itu, usahakan bunganya kedalam ruangan supaya resiko tiupan angin hilang.
Behind the Scenes - Yellow Flower
Selain itu, kita akan lebih mudah mengontrol background (misalnya gunakan kertas atau kain yang warnya sesuai keinginan anda) dan pencahayaan (misalnya gunakan cahaya dari jendela serta beberapa kertas manila sebagai reflektor). Gunakan manual fokus dan gunakan aperture sekecil-kecilnya (f/x; dimana x diset di angka yang terbesar misal f/22 atau f/16) – baca lebih jauh tentang aperture, serta gunakan tripod untuk membantu mengkomposisi foto.
kredit foto (atas ke bawah): Hamed Saber, Zabong, Zyllan, Jenny Downing, Aussiegal, Bruno C dan Visual Density.

NIKON LUNCURKAN D600, KAMERA DSLR FULL FRAME PAKET EKONOMIS

Nikon hari ini mengumumkan peluncuran Nikon D600, kamera DSLR full frame terkecil dan dengan harga paling murah dibanding DSLR full frame lain yang ada dipasaran. Nikon D600 memiliki resolusi 24 Megapiksel, sensor CMOS 36/24 mm full frame dan beragam fitur yang dipinjam dari Nikon D800 dan memasukkannya ke dalam bdoy kamera yang mirip dengan Nikon D7000. Mari kita lihat berapa spesifikasi dan fitur kunci, serta kenapa dia jauh lebih murah dibanding kamera DSLR full frame lain.
Nikon d600 kamera dslr a

Spesifikasi Utama Nikon D600

Beberapa spesifikasi utama Nikon D600:
  • Sensor CMOS full frame 35.9 x 24mm
  • Resolusi maksimum: 6016 x 4016
  • Piksel efektif: 24.3 megapiksel
  • ISO: 100 -6400 (50 – 25600 boost)
  • Format file: NEF (RAW) 12 atau 14 bit, Tiff dan Jpeg
  • Autofokus: contrast detect (sensor), phase detect, multi, center, selective, tracking, single, continous, face cetect, live view
  • Jumlah titik fokus: 39
  • Mount Lensa: Nikon F
  • 3 Inchi LCD 921k dot TFT
  • Viewfinder: optik, 100 % coverage, 0.7x perbesaran
  • Shutter speed: 30 – 1/4000
  • Mode metering: Multi, center weighted, average, spot
  • Flash sync speed: 1/200 detik
  • 1080p full DH video, mono speaker dan mono mikrofon
  • Water and dust resistant
  • Body dari magnesium alloy
  • Rating shutter count: 150 ribu

Perbandingan Antara Nikon D600, D700 dan D800

Nikon D800 dijual dengan harga sekitar Rp 10 Juta lebih mahal dibanding D600, sementara Nikon D700 memang sudah mulai susah dipasaran namun kalau anda masih bisa mendapatkan brand new melalui pesanan khusus harganya masih diatas Rp 20 Juta. Ketiganya adalah kamera DSLR full frame milik Nikon, jadi apa saja beda antara D600, D700 dan D800?
  • Dari sisi resolusi, Nikon D600 adalah 23 megapiksel, Nikon D700 12 megapiksel sementara Nikon D800 36 megapiksel. Kalau anda memburu resolusi maka D800 lebih padat piksel dibanding lainnya
  • Shutter speed maksimum yang hanya 1/4000 detik jika dibandingkan 1/8000 pada Nikon D800
  • Flash sync speed Nikon D600 hanya 1/200 detik dibandingkan 1/250 detik pada D800 dan D700
  • Sistem autofokus hanya memiliki 39 titik dibandingkan 51 titik di D800 dan D700.Makin banyak titik autofokus maka makin cepat kita bisa mengunci fokus
  • Burst continous mode Nikon D600 mirip dengan D700 yang 5,5 fps, lebih tinggi dibanding D800 yang 4 fps
  • LCD dan viewfinder D600 memiliki spesifikasi yang sama dengan D800 dengan cakupan 100%, sementara Nikon D700 hanya memiliki cakupan 95%
Nikon d600 kamera dslr

Video Preview

Lihat video preview Nikon D600 dari Nikon dibawah ini:

Harga dan Ketersediaan

Nikon D600 dibandrol dengan harga US$ 2100, jauh lebih murah dibanding Nikon D800 ataupun Canon 5D Mark III. Kamera ini akan tersedia mulai akhir September 2012.

D600, D700 atau D800, Mana Pilihan Anda?

Kamera full frame seperti Nikon D600 ini adalah opsi menarik bagi mereka yang mendambakan kualitas foto dari sebuah kamera DSLR full frame: low light bagus, kualitas foto tinggi namun juga body-nya ringan, kecil, tahan banting serta tahan cuaca, semua tanpa harus menguras tabungan.
Dengan selisih harga mendekati Rp 10 Juta dibanding D800, kualitas foto D600 sebenarnya tidak terpaut jauh, bahkan saat di mode continuous, Nikon D600 memiliki fps lebih tinggi dibanding D800. Kalau anda tidak membutuhkan flash sync speed ataupun kecepatan autofokus yang tinggi, serta puas dengan resolusi 24 megapiksel, Nikon D600 layak menjadi pertimbangan.
Kalau anda masih bisa mendapatkan Nikon D700 yang lebih tua generasinya, pilihan akan menjadi menarik antara Nikon D600 dan D700 karena harganya lumayan mirip. Nikon D600 unggul di resolusi namun kalah di sync speed dan maksimum shutter speed. Namun, bagi lainyya yang memiliki budget terbatas ataupun masih memulai, kamera APSC yang relatif lebih murah tetaplah menjadi pilihan.