Syurya Jelsi Blog

Selamat datang di portal blog saya.

TIPS MEMOTRET BUNGA

Cari tahu disini bagaimana tips-tips memotret objek micro yang baik

Salam Terakhir

Sebuah puisi untuk sahabat.

FIFA vs PES 13

Perbandingan antara permainan sepak bola teranyar, siapakah yang akan keluar sebagai pemenang tahun ini?.

Canon EOS 6D

CANON 6D, KAMERA DSLR FULL FRAME TERJANGKAU DARI CANON.

Tampilkan postingan dengan label Fotografi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fotografi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 25 September 2012

MEMAHAMI MODE AUTO DAN SCENE PADA KAMERA DIGITAL

Artikel ini memberikan gambaran garis besar dan karakteristik mode pengoperasian auto dan scene pada kamera digital anda (rata-rata kamera saku dan SLR pemula selalu menyertakan kedua mode ini). Mode auto saat ini sudah lumayan handal untuk sekedar menghasilkan foto yang benar. Dan mode scene merupakan jalan tengah bagi fotografer yang ingin menambah kreativitas namun malas menggunakan mode manual.
Apakah dengan itu kita tidak perlu memahami mode manual? jawabannya tergantung sejauh mana kepentingan pemotret. Namun yang jelas mode manual menawarkan fleksibiltas dan kreativitas dalam menghadapi situasi apapun dan dalam menghasilkan foto yang benar-benar sesuai dengan kehendak artistik kita. Karena foto yang benar belum tentu foto yang baik.

Untitled-1 Oke mari kita kembali ke mode auto dan mode scene yang paling banyak digunakan:
  1. Mode Auto (A)Tidak perlu penjelasan apapun, pada intinya kita percayakan pemilihan keseluruhan setting (shutter-aperture-ISO-White Balance & Flash jika ada) pada otak di kamera. Kamera akan berusaha menebak karakteristik seluruh obyek dalam frame serta kondisi cahayanya lalu menentukan semua besaran setting diatas. Mode ini efektif untuk pemula, tetapi hanya menghasilkan foto yang benar namun bukan luar biasa
  2. Mode Portrait (biasa dilambangkan dengan ikon dengan kepala wanita)Kamera akan memilih DOF yang sempit (angka aperture sekecil-kecilnya) sehingga obyek yang di foto akan terisolasi dari background, sehingga ruang fokus hanya akan berada pada subyek saja sementara background terlihat kabur.
  3. Mode Macro (biasa dilambangkan dengan ikon bunga)
    Mode ini diperlukan saat kita ingin mengambil foto benda-benda kecil dari jarak dekat (close-up). Dengan mode ini, kita bisa mendekatkan ujung lensa sedekat-dekatnya (biasanya antara 2-8 cm dari obyek) sehingga benda sekecil apapun akan terlihat cukup besar dan detail.
Dalam jarak sedekat ini, kita harus mengusahakan agar bidang obyek yang difoto sejajar dengan kamera, dan sebisa mungkin menggunakan tripod sehingga hasilnya tajam dan bidang fokusnya cukup.Akan saya pakai saat:
- Saya memotret bunga, serangga, kupu-kupu, atau uang koin. Atau,
- Saya akan memotret makanan sehingga memenuhi seluruh frame foto saya


  • Mode Sport (biasa dilambangkan dengan ikon orang berlari)Mode ini dirancang untuk membekukan gerakan. Di mode ini, kamera akan memperkecil shutter speed sekecil mungkin sehingga ketika membidik subyek bergerak foto yang dihasilkan akan tetap tajam. Flash akan dimatikan dan hanya bekerja saat cahaya cukup. Akan saya gunakan ketika:- Saya memotret anak saya yang sedang menggiring bola - Saya akan memotret sebuah mobil yang sedang melaju
  • Mode landscape (biasa dilambangkan dengan ikon gunung)Mode ini adalah kebalikan dari mode portrait. Kamera akan menggunakan angka aperture sebesar mungkin, sehingga bidang fokus foto (Depth of Field – DOF) bisa seluas mungkin. Dengan begitu keseluruhan bagian foto dalam frame akan tajam. Sesuai namanya, mode ini didesain dipakai saat kita memotret pemandangan alam, namun juga bisa digunakan saat memotret orang namun kita ingin background tetap terlihat tajam. Saya gunakan mode landscape saat:- Memotret terasiring yang indah di Bali - Memotret 10 orang yang berpose didepan Candi Borobudur
  • Mode Night (dilambangkan dengan ikon bintang atau bulan)Mode ini didesain untuk bekerja dalam kondisi cahaya yang minim, baik saat malam maupun kita berada dalam ruangan yang remang. Kamera akan menaikkan ISO supaya dalam kondisi remang-pun sensor masih mampu menangkap cahaya dengan baik, mode ini juga berusaha membuat shutter speed yang lebih lama sehingga gambar tidak terlalu kabur dan biasanya secara otomotis flash bawaan kamera akan ikut menyala. Saya memakai night mode saat:- Mengambil foto dalam sebuah pesta malam - Memotret jalanan dimalam hari
  • Mode Beach / Snow Menyeimbangkan eksposur supaya putih-nya salju atau pasir pantai tidak kehilangan detailnya dan juga tidak terlalu pucat dengan menaikkan eksposur. White balance diset di sinar matahari.
  • Mode FireworksTanpa flash, shutter speed diset lumayan lama untuk merekam pergerakan percikan kembang api dengan baik. Mode ini sebaiknya diimbangi dengan memakai alat bantu untuk menstabilkan kamera supaya tidak goyang, misal tripod.pno
  • Mode Panorama – memotret urutan foto yang nantinya akan digabung sebagai panorama
  • BAGAIMANA MEMBUAT FOTO BOKEH YANG CREAMY

    226227988_2ba6109df8.jpg
    Salah satu perbedaan utama antara indera mata dan lensa kamera anda adalah bahwa mata memiliki depth of field (DOF) hampir tanpa batas sementara lensa terbatas, ini membawa konsekuensi bahwa bidang fokus lensa tidaklah seluas mata. Dan fotografer terdahulu telah memutuskan untuk justru memanfaatkan kelemahan ini menjadi senjata. Lahirlah apa yang kemudian disebut bokeh.
    Bokeh aslinya adalah kata dalam bahasa Jepang yang berarti ‘menjadi kabur’, jadi foto bokeh adalah karakteristik foto yang menonjolkan sebuah oyek utama yang fokusnya sangat tajam sementara latar belakang (dan atau depan) yang sangat kabur, atau dalam bahasa Inggris selective focusing. Dalam contoh foto cantik diatas (karya Sektor Dua), obyek utama muka model amatlah tajam, namun latarbelakang pintu menjadi tampak amat kabur (blur). Nah, sifat kabur inilah yang disebut bokeh. Bagaimana caranya supaya kita bisa menghasilkan foto bokeh yang seperti ini. Berikut yang bisa anda lakukan:

    1. Pilih mode manual atau Aperture Priority – baca lebih jauh tentang mode operasi kamera disini
    2. Pilih setting aperture sebesar mungkin.
    3. Lihat tulisan f/x di lensa anda, semakin kecil x, semakin besar aperture dan semakin sempit bidang fokusnya
    4. Pikirkan tentang faktor jarak, yakni jarak didepan dan dibelakang bidang obyek.
    5. screenshot-001.jpg
      Misalnya anda berdiri 1 meter didepan teman (jarak depan = 1 meter) dan anda menjatuhkan titik fokus lensa pada mukanya. Teman anda berdiri sekitar 10 meter dari background terdekat (jarak belakang = 10 meter), maka background ini akan terlihat sangat kabur. Intinya, semakin kecil jarak depan (jarak antara lensa dan obyek) dan semakin besar jarak belakang (jarak antara obyek dan background) semakin kabur backgorund anda.
    6. Banyak berlatih dan usahakan anda membeli lensa dengan kemampuan aperture sebesar mungkin.
    7. Tip: Jika anda memang menyukai bokeh, lensa non-zoom dengan aperture super besar adalah cara tercepat mendapat bokeh (misal: 85mm f/1.8 & 50mm f/1.8, dua lensa ini adalah lensa super cepat dan super murah juga penghasil bokeh yang luar biasa)

    Senin, 24 September 2012

    APA ITU CROP FACTOR

    Kalau anda sering membaca spesifikasi lensa atau kamera DSLR dan atau anda suka membaca-baca artikel dan forum fotografi, salah satu istilah yang sering muncul dan membuat kita bertanya-tanya adalah ini: Crop-Factor, Kamera Crop, APSC, Focal Length Multiplier dan 35mm equivalent. Semua istilah tersebut mengacu pada Crop-Factor. Artikel ini akan berusaha menjelaskan pengertian crop factor secara singkat dan mudah.
    35mm film
    Industri fotografi sudah berpuluh tahun mengacu pada film 35mm, nah saat kamera digital bermunculan dengan beragam ukuran sensor yang lebih kecil dibanding ukuran film, maka untuk menghindari kerancuan, ukuran sensor tersebut diperbandingkan dengan ukuran film. Kamera digital SLR yang memiliki sensor dengan ukuran yang sama dengan ukuran sebuah film dinamai kamera DSLR full frame, misalnya: Nikon D4, Nikon D800, Canon 5D, Canon 1Dx.
    Kamera crop adalah kamera yang memiliki ukuran sensor lebih kecil dibandingkan ukuran film. Disebut kamera crop karena saat sebuah lensa dipasang di kamera full frame menunjukkan area foto yang mencakup (sebagai contoh saja) gunung dan sawahnya, maka saat lensa yang sama anda pasang di kamera crop ini maka area fotonya akan terpotong (crop) sehingga hanya mencakup hanya gunungnya saja, jadi area foto menyempit. Ukuran sensor yang lebih kecil memotong tampilan penuh yang dihasilkan lensa.
    Nah crop factor adalah hitungan seberapa faktor pemotongan terjadi. Sebagai ilustrasi, lihat bagaimana sensor yang lebih kecil memotong sebuah obyek foto saat dibandingkan dengan kamera full frame (35mm film):
    Crop factor
    Tampilan Penuh – Full Frame
    Garis Hijau: 1.5 x Crop Factor – APSC Nikon
    Garis Hijau: 1.6 x Crop Factor – APSC Canon
    Garis Orange: 2 x Crop Factor – Four Third
    Sementara garis lainnya adalah crop factor beberapa kamera saku yang ukuran sensornya jauh lebih kecil.
    Crop factor berpengaruh pada focal length equivalen sebuah lensa (baca tentang focal length disini). Sebuah lensa dengan panjang focal 18mm saat dipasang dikamera APSC Nikon yang memiliki crop factor 1.5 maka panjang focal equivalen (dalam standar 35mm) adalah (18 kali 1,5) sama dengan 27mm. Sementara sebuah lensa 12mm jika dipasang di kamera Olympus OM-D yang memiliki crop factor 2x, maka panjang focal length 35mm equivalen adalah 24mm.
    Jadi kamera DSLR anda memiliki crop factor berapa?, berikut sedikit contoh:
    1.5 crop factor: Nikon D300s, Nikon D7000, Nikon D3200. Mirrorless: Fujifilm X Pro1 dan Sony NEX
    1.6 crop factor: Canon 60D, Canon 650D, Canon 550D)
    2 crop factor: Semua kamera four third dan micro four third keluaran Olympus dan Panasonic

    MEMAHAMI FOCAL LENGTH LENSA DSLR

    Dalam percakapan antara sesama fotografer, anda akan sering mendengar bunyi obrolan seperti ini: “Wah, fotonya mantab gan, pake lensa berapa mili?”, atau seperti ini: “Kalau sedang traveling saya suka membawa lensa sapujagat, 18 – 200 mili.” Nah sebenarnya kedua percakapan tadi sedang membicarakan mengenai panjang focal, alias focal length. Jadi binatang apakah focal length itu? mari teruskan membaca.
    Secara gampang focal length adalah jarak antara lensa dan bidang focal (sensor di kamera digital atau film di kamera lama) dimana foto anda terbentuk, untuk lebih gampangnya lihat diagram dibawah:
    Focal-Length.pngFocal length dinyatakan dalam besaran milimeter (mm) dan dalam fotografi diberi lambang f.
    Untuk apa mengetahui focal length? focal length menentukan seberapa lebar sudut pandang lensa. Semakin pendek panjang focal, makin lebar sapuan pandangan. Makin panjang focal length, makin sempit sapuannya. Lensa dengan focal length pendek dalam dunia fotografi biasanya disebut lensa wide angle. Lensa dengan focal length panjang bisanya disebut sebagai lensa tele.
    Untuk lebih memahami hubungan antara focal length dan sudut pandang, lihat contoh dibawah:
    contoh-field-of-view.jpg
    Contoh diatas memperlihatkan perbedaan lebar sudut pandang pada jarak pemotretan yang sama. Saat menggunakan lensa dengan focal length 20 mm, anda bisa memotret jalanan serta gedung di kiri dan kanan. Namun saat anda menggunakan lensa panjang, misalnya 400 mm pada contoh diatas, anda hanya akan bisa memotret bagian utama menara.
    Canon punya ilustrasi menarik untuk menggambarkan hubungan antara focal length dan cakupan sudut pandang, silahkan klik disini.
    Jadi, apakah kalau sebuah lensa memiliki spesifikasi 200 mm, maka panjang fisiknya benar-benar 200 mili (20 cm)? Tidak harus. Lensa modern dengan kemajuan teknologi optik menggunakan banyak elemen lensa tambahan didalamnya yang bekerja secara kombinasi, sehingga panjang fisik lensa bisa lebih pendek.
    Nah sekarang silahkan baca juga mengenai crop factor.

    15 FOTO BOKEH DAHSYAT UNTUK INSPIRASI ANDA

    Kita sudah mengenal cara dan trik bagaimana memotret bokeh dan anda juga sudah membaca mengenai Depth Of Field. Nah sekarang waktunya praktek dengan kamera andalan anda.
    Namun sebelum anda beraksi, saya ingin menyisipkan beberapa contoh foto bokeh yang semoga bisa menginspirasi anda! silahkan:

    High Times oleh Mateee

    High Times [Explored Front page]


    Untitled oleh D2K6

    Paulinka Oleh Atheist Lenses

    paulinka4a

    Serenity oleh Mustofa Zamani

    Serenity

    reach! oleh Adam Baker

    reach!

    Macy’s oleh vonSchnauzer

    Macy's

    The Drongo Love oleh Vinot Chandar

    ? The Drongo Love ? Happy Valentine's Day ?

    A Cutie Pie oleh Dawn Huczek

    a cutie-pie

    He Is So Good To Us oleh Kalsey

    He is so good to us!

    Sight oleh Gianmaria

    Sight

    SuperPup oleh Astiga

    SuperPup

    NYC oleh vonSchnauzer

    NYC

    Paper Tiger oleh Cameron Cassan

    [Paper]tiger Jams {Explored}

    Catching The evening Sun oleh vonSchanuzer

    Catching the evening sun in Stockholm

    Saying and Doing oleh Simon Hua

    Saying and Doing

    6 TIPS MEMBUAT FOTO BOKEH DAHSYAT

    2011/09/24 Galya *photo fro the series "Butterflies' autumn tale"*
    Bokeh pada intinya adalah ukuran kualitas blur yang membuat obyek terpisah dari background-nya. Mata kita senang saat melihat foto dengan backgorund yang kabur secara lembut, creamy dan cantik. Salah satu pertanyaan yang paling sering dikirim pembaca adalah, kok bokeh saya masih kurang bagus sih? apa yang salah?
    Ada enam faktor utama yang sangat mempengaruhi kualitas bokeh dalam foto kita, Penuhi keenamnya maka anda akan mendapatkan bokeh dengan kualitas jempol.

    1. Gunakan aperture besar.

    Bokeh berasal dari lensa bukan dari kamera. Oleh karena itu, hal terpenting yang harus dilakukan adalah setting aperture lensa anda pada bukaan yang besar (terbesar yang diijinkan situasi pemotretan – aperture maksimal). Anda bisa melakukannya dengan menggunakan mode Aperture Priority dan mengubah f kedalam nilai terkecil (putar ring aperture berlawanan arah jarum jam). Baca kembali tentang aperture & depth of field.
    Dalam settingan ini secara praktis kita menurunkan depth of field menjadi shallow/dangkal.

    2. Kurangi jarak antara kamera dengan obyek foto.

    Semakin dekat kita berdiri dari obyek foto, semakin blur background-nya. Semakin dekat obyek foto, fokus lensa juga semakin dekat dan depth of fieldakan makin menyempit. Cobalah lakukan ini: acungkan jari telunjuk anda didekat gelas yang jauhnya kira-kira 50 cm didepan anda, fokuskan mata anda pada telunjuk, sekarang gerakkan telunjuk tadi mendekat mata anda. Makin dekat telunjuk dengan mata, gelas dibelakangnya akan makin kabur bukan?

    3. Jauhkan jarak antara obyek dan background-nya.

    Saat anda memotret teman dan ingin menghasilkan bokeh yang bagus, maka semakin jauh teman tadi dari background dibelakangnya, semakin bagus bokeh yang anda dapatkan. Lihatlah foto dibawah ini, daun yang paling dekat kamera masih terlihat tajam. Tapi semakin menjauh dari kamera, semakin kabur. Sementara daun dengan warna hijau dibelakang sana terlihat kabur sekali.
    foto bokeh daun

    4. Gunakan focal length terpanjang.

    Saat anda memakai lensa zoom, gunakan focal length terpanjang untuk makin memisahkan obyek utama dengan background-nya. Sebagai contoh: saat anda menggunakan lensa maut 70–200 mm, set focal length di posisi 200mm untuk menghasilkan bokeh yang bagus.
    Kalau di tas anda tersimpan lensa 300mm, lensa 18–200mm, lensa 14–24mm, pilihlah lensa terpanjang (300mm) kalau tujuan anda menghasilkamn bokeh yang maut.

    5. Pilih lensa dengan kualitas optik terbaik yang mampu anda beli.

    Kualitas bokeh juga sangat dipengaruhi oleh kualitas optik lensa yang kita pakai. Katakanlah anda memilik dua lensa yang focal length maksimalnya sama, contoh: lensa 18–20mm/f5.6 dan lensa 70–200mm/f2.8, karena kualitas optik lensa 70–200mm (biasanya) jauh lebih superior dibandingkan lensa 18–200mm (sehingga harganya juga berlipat-lipat lebih mahal). Maka gunakan lensa 70–200mm tadi, dan sebisa mungkin pakailah di aperture f/2.8.

    6. Gunakan prime lens.

    Karena makin besar aperture makin bagus pula bokehnya, jika anda memiliki prime lens, pakailah. Prime lens atau fixed lens, adalah lensa yang memiliki focal length tunggal alias lensa yang tidak bisa di-zoom. Prime lens biasanya menghasilkan foto bokeh yang sangat bagus karena memilki bukaan aperture yang sangat besar, tipikal prime lensadalah 50mm f/1.4, 85mm f/1.4 atau varian murahnya 50mm f/1.8 dan 85mm f/1.8.
    Nah selamat menghasilkan foto dengan bokeh yang dahsyat.
    Untuk sekedar memacu nafsu anda, lihat juga 15 Foto Bokeh Untuk Inspirasi.

    20 FOTO MENAKJUBKAN DENGAN LENSA 50MM

    Lensa 50mm adalah salah satu lensa terbaik yang bisa dibeli saat anda baru memulai hobi fotografi. Rata-rata lensa 50mm memiliki kualitas yang sangat bagus, biasanya memiliki bukaan yang sangat besar sehingga bisa dipakai dalam kondisi kurang cahaya, memiliki kualitas bokeh yang bagus dan harganya relatif terjangkau (Canon 50mm f/1.8 saat ini dijual dibawah Rp. 1 Juta sementara Nikon 50mm f/1.8D masih dibawah Rp. 1,5 Juta), oh satu lagi anda bisa menyulapnya menjadi lensa makro.
    Untuk menginspirasi anda betapa hebat lensa satu ini, silahkan nikmati 20 foto menakjubkan berikut ini, semuanya diambil dengan lensa 50mm yang dipasang di berbagai jenis kamera (crop maupun full frame):
    12/30
    Cold water
    078/365 Ice Cold Beer Splash
    Rattray Head
    i've been going mad
    Château Lafon-Rochet
    looking out
    Fill Light
    Niki
    Please Don't Go
    Square Sunset
    16-07-10 The Best Way To Make It Through
    Le Cracheur de Feu [Explored]
    Indifferenza / Indifference
    lightscape
    Coffee Splash #2
    In the arms of the night
    when the music fades
    God of This City

    MEMAHAMI APERTURE & DEPTH OF FIELD

    Definisi aperture adalah ukuran seberapa besar lensa terbuka (bukaan lensa) saat kita mengambil foto.
    Saat kita memencet tombol shutter, lubang di depan sensor kamera kita akan membuka, nah setting aperture-lah yang menentukan seberapa besar lubang ini terbuka. Semakin besar lubang terbuka, makin banyak jumlah cahaya yang akan masuk terbaca oleh sensor.
    Aperture atau bukaan dinyatakan dalam satuan f-stop. Sering kita membaca istilah bukaan/aperture 5.6, dalam bahasa fotografi yang lebih resmi bisa dinyatakan sebagai f/5.6. Seperti diungkap diatas, fungsi utama aperture adalah sebagai pengendali seberapa besar lubang didepan sensor terbuka. Semakin kecil angka f-stop berarti semakin besar lubang ini terbuka (dan semakin banyak volume cahaya yang masuk) serta sebaliknya, semakin besar angka f-stop semakin kecil lubang terbuka.
    apertureJadi dalam kenyataannya, setting aperture f/2.8 berarti bukaan yang jauh lebih besar dibandingkaan setting f/22 misalnya (anda akan sering menemukan istilah fully open jika mendengar obrolan fotografer). Jadi bukaan lebar berarti makin kecil angka f-nya dan bukaan sempit berarti makin besar angka f-nya.
    Depth of Field
    Depth of field – DOF, adalah ukuran seberapa jauh bidang fokus dalam foto. Depth of Field (DOF) yang lebar berarti sebagian besar obyek foto (dari obyek terdekat dari kamera sampai obyek terjauh) akan terlihat tajam dan fokus. Sementara DOF yang sempit (shallow) berarti hanya bagian obyek pada titik tertentu saja yang tajam sementara sisanya akan blur/ tidak fokus.
    PICT0235_mdUntuk mendapatkan DOF yang lebar gunakan setting aperture yang kecil, misalkan f-22 (makin kecil aperture makin luas jarak fokus) – lihat contoh foto diatas. Sementara untuk mendapat DOF yang sempit, gunakan aperture sebesar mungkin, misal f/2.8 – lihat contoh foto dibawah.
    PICT0236_mdKonsep Depth of Field ini akan banyak berguna terutama dalam fotografi portrait dan fotografi makro, namun sebenarnya semua spesialisasi akan membutuhkannya.

    LENSA MAKRO MURAH MERIAH DENGAN REVERSE RING

    Setelah dalam dua artikel terdahulu kita membahas tentang alternatif lensa makro menggunakan filter close up dan extension tube, kali ini kita akan membahas cara memperoleh lensa makro dari lensa kit anda dengan menggunakan reverse ring.
    Lensa dibalik makro reverse
    Kelihatannya aneh, tapi saat kita memasang sebuah lensa prime 50mm atau lensa kit zoom standar (18-55mm atau 17-50mm) secara terbalik disebuah kamera (ujung depan lensa menempel ke body kamera) menggunakan alat tambahan bernama reverse ring, kita akan mendapatkan lensa makro berkualitas tinggi dengan harga terjangkau. Kita sebenarnya bisa memakai lensa lainnya, namun lensa prime 50mm dan lensa kit zoom standar tampaknya menjadi pilihan banyak orang karena harganya relatif murah.
    Lensa dengan focal length lebih panjang dibanding 50mm memberi efek perbesaran (magnification) yang terlalu sedikit, sementara lensa lebar memberi efek perbesaran yang terlalu banyak.
    Karena kebanyakan dari pemilik kamera DSLR sudah memiliki lensa kit zoom atau lensa prime 50mm, maka metode lensa makro dengan reverse ring ini menjadi pilihan yang sangat menarik. Cukup dengan membeli sebuah ring kecil dengan harga sangat murah (bahkan kadang tidak sampai Rp 100 ribu), kita sudah memiliki lensa khusus makro berkualitas lumayan dan bisa memotret benda-benda kecil dari jarak sangat dekat.
    Ada dua cara dalam memakai reverse ring:

    Membalik Lensa Tunggal

    Cara pertama adalah dengan membalik sebuah lensa tunggal. Untuk ini kita membutuhkan sebuah reverse ring dan lensa zoom kit atau lensa 50mm. Reverse ring merupakan sebuah cincin kecil dengan satu sisi masuk ke ujung depan lensa sementara sisi satunya masuk ke mount kamera.
    Sebuah lensa prime 50mm yang terpasang ke kamera crop (Canon 600D atau Nikon D3200) dengan reverse ring memiliki reproduksi 1:1, sama seperti lensa makro Canon 85mm seharga Rp. 5 Juta atau lensa Tamron 90mm macro seharga Rp. 3,5 Juta.
    Kerugian utama memakai reverse ring adalah kita kehilangan koneksi elektronik antara kamera ke lensa, sehingga autofokus tidak akan bekerja dan kita harus mengeset fokus secara manual. Namun metering tetap akan bekerja seperti biasa, cukup gunakan mode P (Program) atau Aperture Priority. Untuk mengubah nilai aperture tidak akan bisa dilakukan dari kamera, maka jika anda memiliki lensa dengan aperture ring (biasanya lensa generasi lebih lama) anda memiliki keuntungan bisa mengubah-ubah nilai aperture. Sementara jika lensa tidak memilik aperture ring (rata-rata lensa modern tidak memiliki aperture control di lensa), kita terpaksa menggunakan bukaan terbesar (nilai F terkecil) sehingga kita hanya memiliki Depth of field yang sempit. Jika faktor ini (DOF sempit, autofokus mati) membuat anda malas mencoba reverse ring, anda bisa membaca cara kedua dibawah ini atau anda bisa menggunakan extension tube yang memiliki koneksi elektronis dengan kamera, baca caranya disini.

    Reverse Ring Lensa Double

    Makro coupler lensa dibalik
    Dengan beberapa batasan saat menggunakan satu lensa dibalik (autofokus mati, DOF sempit) kita bisa mengakalinya dengan memasang lensa terbalik didepan lensa lain yang dipasang normal. Dengan cara ini kita masih bisa mengontrol depth of field dan bisa mendapatkan autofokus.
    Lensa yang dipasang normal ke kamera dinamai lensa primary sementara lensa yang dipasang terbalik didepan lensa primary dinamai lensa secondary.
    Untuk menggunakan cara ini, kita membutuhkan lensa 50mm dan sebuah lensa panjang (idealnya diatas 85mm) untuk menghindari vignetting dan sebuah ring bernama macro coupler. Makin panjang lensa primary anda, makin besar pula efek perbesaran foto. Jika anda memakai lensa lebar sebagai pengganti lensa 50mm maka efek perbesaran akan makin besar.
    Macro coupler atau juga biasa disebut male to male ring adapter (m2m) hanyalah sebuah cincin logam dengan ukuran spesifik yang harus sesuai ukuran filter thread lensa anda. Jika anda tidak bisa menemukan adapter yang memiliki ukuran sesuai, anda bisa memanfaatkan step up atau step down ring.
    Oke, selamat mencoba dan harap bersabar, dua cara diatas membutuhkan kesabaran ekstra.